Masih jadi tanda tanya. Meski sudah setahun aku lakukan penelitian. Tapi ujungnya tetap misteri. Mungkin jawaban yg tepat adalah "sudah begitu takdirnya!". Aku memaksa diri paham bahwa di kehidupan ini tak semua realitas bisa dilogika secara utuh.
Jika dimas kanjeng kaya dgn menggandakan uang, tapi kalau pemilik apotik ini tidak demikian. Ia hanya memiliki kebiasaan sedekah. Setahun lalu, saya bertamu ke rumah beliau di perumahan purisuryajaya Gedangan Sidoarjo jawa timur. Saat itu msh kontrak. Namun tempat apotik kecantikan beroperasi sdh diatas rumah milik sendiri.
Saya coba bangun hubungan setelah tahu beliau salah satu pelanggan elpiji saya. Tak ada kemewahan yg tampak kecuali satu mobil toyota alphard dan 1 kijang inova. Rumah kontrakan ukuran kecil. Di dalamnya ada 3 pembantu yg sdh tua.
Pada kali kedua, saya bertemu dengan istri pemilik apotik tsb. Dia mulai cerita jatuh bangun hidup. Termasuk pernah berurusan dengan polisi karena dugaan yg tdk benar. Anak semata wayangnya jg butuh perhatian khusus krn kategori anak berkebutuhan khusus.
Namun dari konten ceritanya, sang ibu meyakinkanku tentang amalan sedekah. Menurutnya, harta hanya titipan Allah. Tidak lebih dari itu. Mulailah ia bercerita beberapa kebiasaan berbagi termasuk pada org jalanan hingga yg tinggal di kolong jembatan. Tak ada yg istimewa kecuali sang ibu dan suaminya mencoba istiqomah dg amalan tsb.
Sejak setahun lalu jg beliau menitipkan nasi kotak 100 porsi setiap abis jumatan di masjid kami. Sempat saya bilang kurang, akhirnya ditambah jadi 150 porsi tiap jumat. Setiap Ramadhon beliau ambil bagian supply takjil di beberapa masjid.
Zakat maal jg pernah dipercayakan penyalurannya melalui kami. Jumlahnya lumayan. Setiap bulan beliau jg nitip infaq utk imam dan penjaga masjid. Pernah juga, beliau menitip sejumlah uang selama 5 bulan utk dana pinjaman tanpa riba bagi jamaah masjid yg punya usaha kecil dan sudah dinikmati tidak kurang dari 30 orang.
Yg pasti konsen beliau thd praktek berbagi menarik. Pasalnya, dibanding warga lain di perumahan kami, beliau bukan termasuk keluarga paling berkelas. Setidaknya dari segi ukuran bisnis dan aset, msh byk dijumpai di perumahan kami yg more better.
Allahu a'lam. Mungkin inilah yg disebut perlunya iman di setiap amalan. Pemilik apotik kecantikan ini bukan berlatar agama, layaknya org pesantren, tp amalannya thd sedekah cukup menonjol. Setiap hari setidaknya aku mendapat order 4 dus air minuman gelas utk customer di apotiknya.
Sempat kuduga pelanggannya ramai shg harus disediakan 4 dus air gelas. Ternyata jg sedang2 saja. Kadang ramai kadang tidak. Pun demikian, setiap tahun beliau bisa berangkatin umroh 3 org pegawai apotiknya. Ough... makin penasaran. Dari mana keajaiban itu?
Sekali lagi Allahu a'lam. Semua sdh dlm skenario Allah tentunya. Yg kupahami siapa berbuat baik hasilnya baik. Banyak memberi biasanya banyak menerima. Apalagi yg memberi pinjaman utk Allah. Penasaran kucari info, sehari omset apotiknya capai Rp.50-60 juta. Angka yg cukup besar utk apotik yg tak sebegitu besar. Letaknyapun dlm perumahan. Tapi mungkin bukan disitu kuncinya, bisa jadi keberkahan yang Allah berikan karena rajinnya beliau bersedekah. Allahu a'lam....
Ditulis berdasar kisah nyata jamaah masjid Shalahuddin
ALI YASIN
KONSULTAN INFORMASI SEKOLAH UMROH SURABAYA

Posting Komentar